Dongeng – Pangeran Ivan dan Sineglazka

Dongeng dari Rusia.

Di suatu waktu yang telah berlalu, hiduplah seorang raja yang memiliki tiga orang putra bernama pangeran Fedor, pangeran Vasili dan pangeran Ivan.

Raja sudah sangat tua. Tubuhnya sudah mulai sakit-sakitan, matanya pun sudah rabun. Menurut cerita yang didengar sang raja, bahwa di sebuah kerajaan yang jauh ada sebuah kebun buah-buahan yang di dalamnya tumbuh sebatang pohon apel, yang jika kita memakannya maka kita akan kembali dan tetap muda. Di sana juga ada sebuah sumur yang jika airnya dipakai untuk membasuh muka, maka matanya akan bisa melihat dengan jelas lagi.

Raja lalu mengumpulkan semua anaknya, pejabat-pejabatnya, dan prajurit-prajuritnya.
“Siapakah di antara kalian yang mempunyai jiwa ksatria dan berani menempuh perjalanan melewati 39 wilayah dan 30 kerajaan untuk membawakanku sebutir apel dan segayung air yang akan mengembalikan kemudaanku!” ucap raja.
Semua yang hadir di ruangan itu mengunci bibir mereka rapat-rapat, takut tiba-tiba bersuara dan raja menganggapnya bersedia menerima tantangannya. Kemudian pangeran Fedor maju dan berkata: “Aku akan pergi untukmu ayah!”
“Baiklah, doaku bersamamu anakku!” kata raja dengan bangga.

Esoknya pangeran Fedor pergi ke istal dan memilih seekor kuda. Memasangkan tali kekang baru yang berhias batu-batu permata, mengambil sebuah cambuk dan mengikatkan pelananya dengan 21 ikatan lalu pergi meninggalkan istana untuk memulai perjalanannya.

Dia berjalan melewati bukit dan lembah dari pagi hingga malam hingga akhirnya ia tiba di sebuah persimpangan. Di persimpangan itu ada sebuah papan penunjuk arah dan di sana tertulis:
“Barang siapa yang memilih jalan ke kanan, maka dia akan selamat tapi akan kehilangan kudanya. Barang siapa yang mengambil arah ke kiri maka kudanya akan selamat tapi pemiliknya akan mati. Dan barang siapa yang memilih jalan yang lurus, dia akan mendapatkan seorang istri.”
“Aku akan mengambil jalan yang lurus,” kata pangeran Fedor.

Pangeran Fedor menghela kudanya melewati jalan di depannya dan kemudian tibalah ia di sebuah rumah beratap emas, seorang gadis yang sangat cantik berlari menyambutnya.
“Oh pangeran, aku akan membantumu turun dari kudamu. Singgahlah dan beristirahatlah di sini!” katanya.
“Tidak nona! Saya tidak bisa menghabiskan waktu disini karena perjalananku masih sangat jauh,” ujar pangeran Fedor.
“Oh, tidakkah kau merasa lelah? Beristirahatlah sebentaar saja. Aku akan menghiburmu!” kata gadis tersebut.

Akhirnya pangeran Fedor turun dari kudanya dan mengikuti sang gadis ke dalam rumah beratap emas itu. Sang gadis menghidangkan makanan yang lezat untuknya, menuangkan minuman dan membimbingnya ke tempat tidur. Sesaat setelah pangeran Fedor membaringkan tubuhnya, tempat tidur itu terbalik dan pangeran Fedor terjatuh ke dalam lubang yang gelap.

Sementara itu raja mulai gelisah di istana karena pangeran Fedor tidak juga kembali. Maka dia kembali menantang para kesatria untuk pergi menyusul pangeran Fedor. Kali ini putra keduanya pangeran Vasili yang pergi meninggalkan istana keesokan paginya. Namun hal yang sama kembali terjadi padanya. Pangeran Vasili terjatuh ke lubang yang sama dengan kakaknya.
“Siapakah yang terjatuh?” tanya sebuah suara.
“Pangeran Vasili dan siapakah itu?” tanya pangeran Vasili.
“Aku pangeran Fedor!” katanya.
Mereka pun berpelukan, bahagia karena saling menemukan dan berharap suatu hari seseorang akan menyelamatkan mereka.

Di istana pangeran Ivan, si bungsu, mengajukan diri untuk mencari apel dan air kehidupan, serta menemukan kedua kakaknya. Esoknya pangeran Ivan pergi ke istal, namun dia tidak menemuan satu ekor kuda pun yang sesuai dengan keinginannya.

Tiba-tiba datanglah seorang nenek menghampirinya, “Selamat pagi pangeran Ivan, kelihatannya anda sedang tidak senang!”
“Bagaimana aku bisa senang. Aku tidak menemukan kuda yang bagus untuk perjalananku. Padahal perjalananku sangat jauh dan berat,” kata pangeran Ivan.
“Jangan khawatir, aku akan menunjukkan satu untukmu. Dia masih sangat liar karena belum pernah seorang pun menungganginya. Aku merantainya di ruang bawah, kalau pangeran bisa menjinakannya maka dia akan menjadi kuda tercepat dan terkuat di istana ini,” katanya.

Pangeran Ivan pergi ke ruang bawah tanah dan dilihatnya seekor kuda hitam yang paling gagah yang pernah dilihatnya. Meski awalnya kuda itu memberontak, tapi dengan mudah pangeran Ivan menguasainya hingga ia jinak. Pangeran memasangkan tali kekang baru di kepala kudanya, mengambil sebuah cambuk, dan mengikatkan pelananya dengan 21 ikatan.

Lalu berangkatlah pangeran Ivan melewati bukit dan lembah dari pagi hingga malam hingga ia sampai di persimpangan dimana sebuah papan penunjuk arah tertancap.
“Jika aku pergi ke kanan aku akan kehilangan kudaku, apa gunanya aku tanpa kudaku, aku tidak akan sanggup melanjutkan perjalananku dengan berjalan kaki. Jika aku lurus, aku akan menikah, dan itu bukan tujuanku melakukan perjalanan ini. Kalau aku ke kiri, maka kudaku selamat. Baiklah aku akan pergi ke kiri!” kata pangeran Ivan.

Pangeran Ivan berbelok ke kiri, kembali melewati gunung dan lembah dari pagi hingga malam. Suatu hari ia sampai di sebuah gubuk kecil yang hanya memiliki satu jendela.
“Izba, little izba, berbaliklah! Hadapkan pintumu ke arahku supaya aku bisa masuk dan keluar!” kata pangeran Ivan.
Gubuk itu bergerak dan berbalik sehingga kini pintunya ada di hadapan pangeran Ivan.
Pangeran Ivan masuk dan seorang baba yaga menyambutnya. Badannya berbulu dan sangat besar hingga lebar pundaknya hampir menyentuh kedua sisi dinding dan hidungnya hampir-hampir menyentuh atap.
“Uh uh, sudah lama tidak ada yang lewat di depan rumahku. Apakah kau sedang mengejar sesuatu atau lari dari sesuatu?” tanyanya.
“Wahai Baba yaga, begitukah caramu menyambutku? Tidakkah seharusnya kau menawariku makan, minum dan menginap? Nanti akan kuceritakan tentang perjalananku!” kata pangeran Ivan.
Dia melakukan apa yang diminta pangeran Ivan dan kemudian mereka pun duduk bersama.
“Nah anak muda, ceritakan siapa dirimu, siapa ayahmu dan ibumu, dan dari mana kamu berasal?” tanya Baba yaga.
“Baiklah nek, akan kuceritakan padamu. Aku berasal dari sebuah kerajaan di suatu negeri, dan aku adalah pangeran Ivan, anak bungsu raja. Aku telah berjalan melewati 39 wilayah dan 30 kerajaan untuk mencari buah apel yang bisa mengembalikan masa muda ayahku dan air untuk mengembalikan sinar matanya,” kata pangeran Ivan.
“Oh anakku sayang! Kamu sudah berjalan begitu jauh! Ketahuilah bahwa apel dan air itu adalah milik seorang gadis yang sangat sakti. Dia adalah keponakanku sendiri, namanya Sineglazka.” kata Baba yaga.
“Kalau begitu wahai nenekku yang baik, maukah kau menolongku? Berilah aku nasihat, apa yang harus aku lakukan?” tanya pangeran Ivan.
“Begitu banyak ksatria yang datang ke sini, namun tidak ada satupun yang berbicara begitu santun. Ambilah kudaku anak muda. Dia bisa berlari lebih cepat, dan dia akan membawamu ke rumah kakak keduaku, dia bisa memberimu nasihat yang kau perlukan!” kata Baba yaga.

Pangeran Ivan berangkat pagi-pagi sekali. Dia mengucapkan terima kasih kepada Baba yaga dan kemudian memacu kudanya. Tiba-tiba pangeran Ivan berkata: “Berhenti! Aku menjatuhkan sarung tanganku.”
“Ketika kau berbicara, aku sudah berlari sejauh 2000 km,” kata kuda.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, pangeran Ivan tiba di sebuah gubuk kecil tempat kakak Baba yaga tinggal. Pangeran Ivan makan, minum dan beristirahat di gubuk itu dan Baba yaga menanyakan tujuannya.
“Aku telah berjalan melewati 39 wilayah dan 30 kerajaan untuk mencari buah apel yang bisa mengembalikan masa muda ayahku dan air untuk mengembalikan sinar matanya. Dan keduanya milik seorang gadis sakti bernama Sineglazka,” kata pangeran Ivan.
“Anakku, aku tidak tahu apakah kau akan sanggup mengambilnya. Perjalanan ke sana sangat sulit dan Sineglazka sangat sakti!” katanya.
“Maukah kau menolongku? Berilah aku nasihat, apa yang harus aku lakukan?” tanya pangeran Ivan.
“Karena kau begitu sopan, aku akan membantumu! Bawalah kudaku, dia bisa berlari lebih cepat dan akan membawamu ke kakak tertuaku, dia akan memberimu nasihat yang kau butuhkan!” katanya.

Pangeran Ivan menaiki kuda Baba yaga yang bisa berlari 3000 km dalam satu detik dan sampai di rumah kakak tertua Baba yaga dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dia juga menyambut pangeran Ivan dengan baik dank arena pangeran Ivan sangat santun, Baba yaga memberinya nasihat yang bagus.
“Anakku, Sineglazka sangat sakti. Tempat tinggalnya dikelilingi oleh tembok yang sangat tinggi dan tebal. Pintu gerbangnya dijaga dengan ketat. Kau harus masuk ke sana saat tengah malam. Pakailah kudaku, kudaku adalah yang terbaik dari semuanya. Saat kau tiba di depan tembok, pecutlah kudanya, maka dia akan melompat melewati temboknya. Di dalamnya kau akan menemukan pohon apel dan sebuah sumur. Kau hanya boleh memetik 3 butir apel saja dan segayung air. Sineglazka pasti sedang terlelap di kamarnya. Jangan coba-coba pergi ke kamarnya. Pecutlah kembali kudamu, dan kau akan selamat sampai disini,” kata Baba yaga.

Malamnya pangeran Ivan menunggangi kuda Baba yaga menuju kediaman Sineglazka. Kuda itu melompat melewati rawa, sungai dan danau dengan hanya satu kali hentakan. HIngga tibalah ia di depan tembok yang menjulang tinggi. Gerbangnya dijaga oleh 33 penjaga. Pangeran Ivan memecut kudanya sehingga kuda itu melompat melewati tembok dan mendarat di dalam kebun milik Sineglazka. Pangeran memetik 3 butir apel yang paling ranum dan mengambil segayung air di sumur.

Dia sudah hampir menaiki kudanya ketika terbersit satu keinginan untuk melihat wajah Sineglazka dengan mata kepalanya sendiri. Maka dia pergi ke kamar Sineglazka. Di tengah kamar Sineglazka tertidur, dikelilingi prajurit wanita lainnya, masing-masing 6 prajurit di kanan kirinya. Tapi mereka semua tertidur. Pangeran Ivan tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Sineglazka yang cantik.

Kemudian dia segera kembali menaiki kudanya. Tapi kuda itu berkata: “kau tidak mematuhi nasihat Baba Yaga. Kini aku tidak bisa melompat melewati tembok itu.”
Pangeran marah mendengarnya, “dasar kuda tua, kita tidak bisa tetap tinggal di sini, para prajurit itu akan membunuh kita.”

Pangeran Ivan memecut kudanya dengan sekencang-kencangnya, sehingga membuat kuda itu marah dan melompat melewati tembok. Namun salah satu kakinya menyentuh kawat di puncak tembok dan bel pun berbunyi membangunkan Sineglazka serta prajuritnya.
“Kita telah dirampok,” kata Sineglazka dengan murka. Dia segera memimpin prajurinya untuk mengejar pangeran Ivan.

Pangeran Ivan tiba di rumah Baba yaga dan melihat kudanya telah siap ditunggangi. Dia segera menukar kudanya dan kembali memacunya. Selang beberapa saat Sineglazka tiba di rumah Baba yaga.
“Bibi, apakah ada seekor binatang lewat sini? Atau seorang penunggang kuda yang melewati rumahmu?” tanyanya.
“Tidak ada nak! Istirahatlah dulu anakku. Segelas susu hangat akan menyegarkanmu!” kata Baba yaga.
“Aku sedang terburu-buru bibi! Pencuri itu pasti sudah jauh saat kau selesai memerah sapi” kata Sineglazka.
“Oh, tidak akan lama anakku. Hanya sedetik saja,” kata Baba yaga.

Sementara Baba yaga menahan Sineglazka, pangeran Ivan telah sampai di rumah Baba yaga yang kedua. Dia mengganti kudanya dan kembali memacunya. Beberapa saat kemudian Sineglazka juga sampai di rumah Baba yaga dan menanyakan keberadaan pangeran Ivan.
“Tidak ada nak! Istirahatlah dulu anakku. Beberapa potong pancake akan mengembalikan kekuatanmu!” kata Baba yaga.
“Aku sedang terburu-buru bibi! Pencuri itu pasti sudah jauh saat kau selesai memanggangnya” kata Sineglazka.
“Oh, tidak akan lama anakku. Hanya sedetik saja,” kata Baba yaga.

Pangeran Ivan tiba di rumah Baba yaga yang pertama dan segera menganti kuda yang ditungganginya dengan kuda miliknya sendiri. Beberapa saat kemudian Sineglazka tiba pula di rumah itu. Baba yaga menawarinya untuk menyegarkan badannya dengan mandi air hangat.
“Aku sedang terburu-buru bibi! Pencuri itu pasti sudah jauh saat kau selesai mendidihkan airnya” kata Sineglazka.
“Oh, tidak akan lama anakku. Hanya sedetik saja,” kata Baba yaga.

Sementara itu pangeran Ivan memacu kudanya sekencang-kencangnya melewati hutan, danau, lembah dan gunung. Kemudian dia menyadari bahwa pasukan Sineglazka berada tepat di belakangnya dan tidak mungkin lagi baginya untuk meloloskan diri. Pangeran Ivan menghentikan kudanya dan memutuskan untuk menghadapi Sineglazka.

Mereka pun berduel dengan hebat hingga cambuk mereka sama-sama putus dan pedang mereka sama-sama tumpul. Lalu mereka berduel dengan menggunakan tangan kosong. Mereka mengeluarkan jurus-jurus terbaiknya, mengeluarkan semua kekuatan yang dimiliknya. Mereka berkelahi siang dan malam hingga suatu ketika pangeran Ivan terpeleset dan terjatuh. Sineglazka mengarahkan pedangnya ke dada pangeran Ivan.
“Jangan bunuh aku wahai Sineglazka yang cantik. Lebih baik bantulah aku berdiri dan menikahlah denganku!” kata pangeran Ivan.
Sineglazka membantunya berdiri dan mereka pun menikah. Para prajurit Sineglazka mendirikan tenda yang besar di padang itu dan mereka menghabiskan tiga hari tiga malam untuk berbulan madu.
“Aku akan kembali ke rumahku dan kau juga harus kembali ke istanamu. Tapi ingatlah! Jangan lari dari tanggung jawabmu! Tunggu aku tiga tahun lagi, aku akan datang ke istanamu!” kata Sineglazka.

Dan mereka pun berpisah. Pangeran Ivan kembali melanjutkan perjalanan pulangnya. Namun dia ingat bahwa kedua kakaknya belum kembali dan mungkin sedang membutuhkan pertolongan. Maka dia memutuskan untuk mengikuti jalan yang menjanjikan perkawinan. Dia tiba di sebuah rumah beratap emas dan seorang gadis cantik menyambutnya.
“Oh, pangeran Ivan aku sudah lama menunggumu. Mari beristirahatlah di sini!” katanya.
Gadis itu menyajikan makanan dan minuman lezat, namun pangeran Ivan membuangnya saat gadis itu lengah. Saat gadis itu menyuruhnya untuk berbaring di ranjang, pangeran Ivan mendorongnya ke atas ranjang. Ranjang itu terbalik dan gadis itu jatuh ke dalam lubang di bawahnya.
“Apakah ada orang di bawah sana?” teriak pangeran Ivan.
“Pangeran Fedor dan pangeran Vasili,” sahutnya.
Pangeran Ivan membantu keduanya keluar. Mereka pun berpelukan bahagia. Lalu bersama-sama memacu kudanya untuk kembali ke istana.

Mereka berjalan berhari-hari hingga kuda mereka kelelahan. Mereka memutuskan untuk sedikit beristirahat dan membiarkan kuda-kuda mereka merumput.
“Aku akan tidur sebentar,” kata pangeran Ivan, “tolong jagalah kudaku!”
Saat pangeran Ivan tertidur, pangeran Fedor berkata kepada pangeran Vasili: “Jika kita pulang dengan tangan hampa, ayah pasti tidak akan menghargai kita.”
“Kita lemparkan saja dia ke jurang, lalu kita ambil apel dan airnya,” kata pangeran Vasili.
Mereka lalu melemparkan pangeran Ivan ke dalam jurang setelah merampas apel dan air kehidupannya.

Pangeran Ivan melayang selama tiga hari tiga malam sebelum tubuhnya mencapai dasar jurang. Dasar jurang itu ternyata adalah sebuah pantai. Pangeran Ivan memandang sekelilingnya. Tidak ada apapun disana selain tebing dan laut dan sebatang pohon oak tua. Beberapa anak burung Nagai di dalam sarang di atas pohon oak itu mencericit memanggil ibu mereka, angin laut yang sangat dingin telah membuat mereka menggigil. Pangeran Ivan memanjat pohon oak dan menyelimuti anak-anak burung tersebut dengan pakaiannya.

Tidak berapa lama sang induk Nagai datang dan menyapa anak-anaknya:
“Halo anak-anakku sayang! Apakah kalian kedinginan?”
“Tidak ibu, pemuda ini telah menyelimuti kami,” kata mereka.
Induk itu memandang pangeran Ivan dengan heran, “Apa yang membuatmu terdampar di tempat ini anak muda?” tanyanya.
“Kedua kakakku melemparkanku ke sini karena iri padaku,” jawab pangeran Ivan.
“Kau telah menyelamatkan anak-anakku anak muda. Mintalah apa saja yang kau mau, emas, perak, batu berharga..apapun!” kata induk burung.
“Aku tidak membutuhkannya, burung yang baik! Tapi bolehkah aku memintamu membawaku kembali ke istanaku?” tanya pangeran Ivan.
“Tentu, tapi pertama-tama siapkanlah 2 kantung daging untuk makananku. Dan kau harus menyuapiku selama dalam perjalanan,” kata induk burung.

Pangeran Ivan menangkap beberapa ekor angsa lalu mengambil dagingnya. Setelah kedua kantungnya penuh dia naik ke punggung burung Nagai dan mulai menyuapinya. Burung itu pun terbang membawa pangeran Ivan yang terus menyuapinya sepanjang perjalanan hingga kedua kantung itu kosong. Burung Nagai itu mendekatkan paruhnya ke pangeran Ivan memintanya untuk menyuapinya lagi. Pangeran Ivan mengiris sepotong daging dari paha kirinya dan memberikannya pada si burung. Lalu sepotong lagi dari paha kanannya. Dan ketika tanah kelahirannya mulai terhampar di kejauhan, pangeran Ivan memotong seiris daging dari dadanya sehingga tibalah ia di halaman istana dengan selamat.
“Kau telah menyuapiku dengan baik anak muda. Tapi tiga potong daging yang terakhir rasanya lebih enak, daging apa yang kau berikan?” tanya burung Nagai.
Pangeran Ivan memperlihatkan luka di tubuhnya.
“Aku akan mengembalikannya padamu,” katanya. Dia memuntahkannya dan menempelkannya kembali di tubuh pangeran Ivan.
“Baiklah anak muda, kini saatnya aku kembali. Selamat tinggal!” katanya.
Pangeran Ivan mengucapkan terima kasih dan induk burung itu kembali melesat ke udara.

Kini dia telah berada di depan gerbang istana, tapi kabar yang dia terima adalah kakak-kakaknya telah kembali dengan membawa apel dan air kehidupan, dan ayahnya sudah sehat kembali. Pangeran Ivan memutuskan untuk tidak kembali ke istana. Dia pergi dari penginapan ke penginapan, dari bar ke bar. Berkumpul dengan para gelandagan hingga badannya tidak terurus dan janggutnya tumbuh tidak beraturan.

Sementara itu di negeri lain, Sineglazka telah melahirkan dua orang putra. Mereka tumbuh besar setiap jamnya dan bukan setiap hari atau bulan. Singkatnya tiga tahun pun tiba. Sineglazka mengumpulkan prajuritnya dan mengajak kedua putranya untuk mencari pangeran Ivan.

Setelah berkuda selama beberapa hari saja, mereka tiba di kerajaan pangeran Ivan. Sineglazka dan prajuritnya mendirikan tenda yang sangat besar di tengah lapangan. Seorang kurir dikirimkan dengan membawa pesan yang isinya:
“Hai raja negeri ini. Kirim segera anakmu menemuiku! Atau aku dan prajuritku akan memporak-porandakan seluruh kerajaan!”
Raja sangat ketakutan mendengar ancaman itu, dia mengirim pangeran Fedor untuk segera menemui Sineglazka.
Pangeran Fedor dengan baju kebesarannya yang merah menyala datang ke tenda Sineglazka dan 2 orang anak berlari menyambutnya.
“Ibu…apakah dia ayah kami?” tanya mereka.
“Bukan nak! Dia pamanmu,” jawab Sineglazka.
“Apa yang harus kami lakukan padanya?” tanya mereka.
“Lakukan apa yang pantas buatnya,” jawab Sineglazka.
Kedua anak itu lalu menangkap pangeran Fedor dan mengikatnya dengan kencang hingga ia tidak bisa melarikan diri.

Sineglazka kembali megirim seorang kurir. “Serahkan anakmu…!” ancamnya.
Raja semakin ketakutan, lalu mengirim pangeran Vasili untuk menemui Sineglazka. Dia berangkat menuju tenda Sineglazka dan dua orang anak berlari menyambutnya.
“Ibu…apakah dia ayah kami?” tanya mereka.
“Bukan nak! Dia pamanmu. Lakukan apa yang pantas buatnya,” jawab Sineglazka.
Kedua anak itu lalu menangkap pangeran Vasili dan mengikatnya dengan kencang hingga ia tidak bisa melarikan diri.

Sineglazka mengirim kurir untuk ketiga kalinya. “Cepat cari pangeran Ivan, dan bawa dia kehadapanku! Jika tidak, aku akan membakar kerajaanmu dan kalian akan kujadikan tawananku!” ancamnya.

Raja akhirnya menemui sendiri Sineglazka dan memohon supaya mengijinkan kedua anaknya untuk mencari pangeran Ivan.
Tapi pangeran Fedor dan pangeran Vasili jatuh berlutut di hadapan ayah mereka. Mereka mengakui perbuatan mereka, mengambil apel dan air kehidupan lalu melemparkan pangeran Ivan ke jurang. Mendengar itu raja menangis sedih.
Sementara itu pangeran Ivan dengan diiringi para gelandangan datang menemui Sineglazka di tendanya. Dua orang anak berlari menyambutnya.
“Ibu…ada orang-orang gelandangan datang menemui kita,” kata mereka.
“Sambutlah dia dan cium tangannya. Dia adalah ayah kalian yang telah menderita selama tiga tahun karena perbuatan paman kalian,” jawab Sineglazka.
Kedua anak itu menyambut pangeran Ivan dengan pelukan hangat. Mereka mencium tangannya dan membimbingnya ke dalam tenda. Sineglazka membersihkan badan pangeran Ivan, menyisirkan rambutnya, memakaikan pakaian indah untuknya, lalu memberikan hadiah untuk para gelandangan yang menyertai pangeran Ivan.

Esoknya digelarlah pesta besar di istana layaknya pesta pernikahan raja-raja. Semua rakyat ikut bergembira. Sayang pangeran Fedor dan pangeran Vasili tidak bisa ikut dalam kegembiraan ini, karena raja telah mengusirnya dari istana. Namun pangeran Ivan yang bijaksana lebih memilih untuk meninggalkan istana dan tinggal di tempat Sineglazka. Dengan begitu mungkin suatu hari raja akan memaafkan kedua kakaknya dan kembali menjadikan mereka penerus tahtanya.

(SELESAI)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s