Calon Penghuni Surga

Penghuni Surga – Bismilah…Melanjutkan postingan terakhir Taman Berbagi yang terakhir sahabat yaitu menepati janji maka hari ini Ibnu akan berbagi kembali mengenai calon penghuni surga dan semoga artikel yang menceritakan seseorang yang menjadi Calon Penghuni Surga ini bermanfaat sahabat …

Setelah menunaikan Haji Wada’ dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberikan isyarat bahwa saat atau masa beliau meninggalkan kaum dan para sahabatnya telah hampir dekat.Mendengar perkataan sang Rasul, Abu Bakar, Ali ibn Abi Thalib serta para sahabat lainnya menangis dengan sekuat yang mereka bisa.

Beberapa masa kemudian Rasulullah sakit, tapi dalam sakitnya Beliau tetap mengimami shalat.Setelah mengimami shalat subuh, Rasul berdiri di atas mimbar.Suaranya basah menyenandungkan puji dan kesyukuran kepada Allah yang Maha Pengasih.

Senyap segera saja datang, mulut para sahabat tertutup rapat, semua menajamkan pendengaran,menuntaskan kerinduan pada suara sang Nabi.Semua menyiapkan hati untuk untuk disentuh serangkaian hikmah.

Selanjutnya Rasul bertanya : ” Wahai sahabat, kalian tahu umurku tak akan panjang lagi, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil Qisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang lebih baik”.

Semua yang hadir terdiam, menatap lekat Nabi yang terlihat lemah.Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal.Apapun yang dilakukan Nabi selalu saja indah.Segala hal yang diperintahkan,selalu membuihkanbening sari pati cinta.Tak akan rela sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski hanya secuil jari kaki.Melihat semua terdiam,Nabi mangulanginya sampai 3 kali.Hingga sampai yang ketiga kalinya, seorang laki-laki menuju Nabi.

Dialah Ukasyah Ibnu Muhsin.Lalu dia berkata : ” Ya Rasul Allah, dulu aku pernah bersamamu di perang Badar.Untaku dan untamu berdampingan, dan akupun menghampirimu agar dapat menciummu, wahai kekasih Allah.Saat iitu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung sampingku ” Ucap Ukasyah.

Mendengar ini Nabi menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri kesayangannya, Fatimah.Bilal tampak enggan, langkahnya begitu berat, ingin sekali ia menolak karena tidak ingin cambuk yang dibawanya melecut tubuh sang kekasih.Setelah mengambilnya, cambuk diserahkan ke Rasulullah, Dengan cepat cambuk berpindah ke tangan Ukasyah.Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.

Sekonyong-konyong melompatlah 2 sosok dari barisan terdepan, melesat maju.Yang pertama berwajah sendu, janggutnya basah oleh air mata yang menderas sejak tadi, dialah Abu Bakar.Dan yang kedua, sosok pemberani yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, U

mar Ibn Khattab.Gemetar mereka berkata :” Hai Ukasyah, pukullah kami berdua, sesukamu yang kau dera.Pilihlah bagian manapun yang paling kau sukai, qisaslah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasulullah .” ” Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian”, kata Rasulullah

Melihat Umar dan Abu Bakar duduk kembali, Ali bin Abi Thalib tak tinggal diam.Berdirilah dia di depan Ukasyah dengan berani. “Hai Ukasyah, inilah aku yang masih hidup siap untuk menggantikan qisas Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku.”

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesungguhnya tahu kedudukanmu dan niatmu wahai Ali, duduklah kembali”,ucap Rasulullah.Masjid kembali ditelan senyap.Banyak jantung yang berdegup kian cepat.Tak terhitung yang menahan nafas.Ukasyah tetap tegak menghadap Rasulullah.Kini tak ada lain yang berdiri ingin menghalangi Ukasyah mengambil qisas.”Wahai Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil qisas, inilah ragaku !”

Nabi selangkah maju mendekatinya.”Ya Rasul, saat engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu.”Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan gamisnya yang telah memudar.Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah, seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis sedih.

Melihat badan manusia yang maksum itu, Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi.Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra.Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu.Ukasyah menangis gembira, Ukasyah bertasbih memuji Allah, berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu : “Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengqisas manusia indah sepertimu.Aku berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu sehingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka.”

Dengan tersenyum Rasulullah berkata : “Ketahuilah wahai manusia, siapa yang ingin melihat penduduk surga ,maka lihatlah pribadi lelaki ini.” Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah.Sedangkan yang lain berebut mencium Ukasyah.Pekikan takbir menggema kembali.

Wahai Ukasyah, berbahagialah engkau telah dijamin Rasulullah sedemikian pasti, bergembiralah engkau karena kelak engkau manjadi salah satu yang menemani Rasul di surga.Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru Madinah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s